Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan segera menata sumur minyak rakyat, terutama di Kabupaten Blora. Langkah ini diambil sebagai respon atas insiden ledakan sumur minyak yang menewaskan tiga orang beberapa waktu lalu. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menjelaskan bahwa proses verifikasi dan penataan sumur tradisional berisiko tinggi sebenarnya sudah dimulai sebelum kejadian tersebut. Tim khusus telah disiapkan untuk menangani sumur-sumur yang berpotensi ilegal dan membahayakan.
Sumarno menekankan pentingnya penataan ini karena risiko yang ditimbulkan oleh sumur minyak, terutama sumur ilegal. "Kalau yang jadi masalah, begitu ilegal itu tidak ada yang meng-assessment masalah sisi keselamatan, ya itu yang menjadi PR berat," tegasnya. Saat ini, fokus utama pemerintah adalah memadamkan api dan menyelamatkan warga di sekitar lokasi kejadian di Blora.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng, Agus Sugiharto, menjelaskan bahwa jumlah pasti sumur minyak tua di Jawa Tengah masih dalam proses pendataan. Namun, beberapa daerah yang diketahui memiliki sumur minyak tua, termasuk yang merupakan peninggalan Belanda sejak tahun 1970-an, antara lain Blora, Rembang, Kendal, Batang, Boyolali, dan Grobogan.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng per Selasa 19 Agustus 2025, insiden di Dusun Gendono, Desa Gandu, Kecamatan Bogorejo, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka. Sebanyak 303 kepala keluarga (KK) atau 760 jiwa terpaksa mengungsi, sementara satu rumah rusak berat, empat rumah rusak sedang, dan tiga ekor ternak mati akibat kejadian tersebut.

0 Komentar